Tuesday, 6 November 2018

Malam yang Mengerikan


Pada malam senin, kami dirugaskan untuk berbelanja sayuran dan berbagai macam keperluan untuk acara open house KPMJB. Dikarenakan sudah larut malam. Dan acara akan dilaksanakan esok hari. Maka kami terpaksa untuk berbelanja pada malam itu juga.
Sebelum kami berbelanja kami membuat daftar terlebih dahulu apa saja yang akan di beli. Sesudah tertulis daftar nya. banyak sekali belanjaan yang kita akan beli. Maka dari itu kami 6 orang pergi untuk berbelanja.
Kita pergi ke bawabat, mencari warung yang masih buka. Sedikit sekali warung yang masih buka. Dikarenakan orang masih menganggap ini masih hari raya. Jadi ada warung yang masih tutup. Kami menyisiri ke toko-toko. Ada 1 toko sayuran yang masih buka.
Kita pun menghampiri toko tersebut. Melewati jalan yang dikurangi penerangan lampu. Kita pun tidak merasa geram ataupun takut, disebabkan kami ber enam. Iya kali takut sama satu orang penjahat. Beberapa sayuran kami beli. Seperti, kentang, cabai, tomat, dan lain-lain. Dan masing-masing orang membawa barang bawaan untuk dibawa ke PSG (PASANGGRAHAN).
Setelah kita cek apa saja yang kami beli dengan daftar yang kami buat. Ternyata masih ada barang yang belum terbeli. Dan memang bumbu tersebut berasal dari indo. Akhirnya sabagian dari kami harus ke toko yang dimana tempat jualan apa saja yang dari indo.
Untuk menuju tempat tersebut tempat yang angker. Bukan karena setan tapi angker karena haromi (pencopet). Tempat yang gelap. Hanya ada satu atau dua lampu untuk menerangi jalan. Tak ada banyak orang lalu jalan. Begitu juga daerah tersebut tak sedikit cerita yang kecopetan, bahkan kemalingan. Daerah tersebut yaitu mutsalats. Itulah bayangan yang berada di setiap masisir (mahasiswa Indonesia mesir).
Mau tidak mau kami ber tiga yaitu, saya, haikal, dan caca. Terpaksa harus kesana. Kami semua cowok. Jadi hal negatif yang ada dibayangan masisir tidak ada. Karena yang dibenak kami bisa kita lawan. Masa tiga orang cowok  gak bisa lawan para pencopet.
Setelah kami menaruh barang di PSG. Kami langsung bergegas untuk ke mutsalats. Dikarenaka jauh kami harus naik tremco (angkutan umum seperti mikrolet mini). Sudah lama menunggu tremco, tak datang juga. Lama sekali seperti nunggu jodoh yang lama datang. Kami memutuskan untuk naik taksi.
Kami pun menyetop taksi. Dan sebelum naik kita Tanya dulu pakai argo atau tidak. Dan supir taksi pun menjawab dengan lantang “Asyroh geneh(10 pound)”. Kami pun mengiyakan dikarenakan kepepet dan sudah malam. Kami melewati daerah yang gelap tak ada lampu.
Sesampainya kami di toko tersebut. Kami langsung memilah dan memilih barang yang diperlukan. Barang sudah didapatkan. Karena memang  hanya sedikit yang belum kita beli. Dan ada barang yang sudah dipesan terlebih dahulu oleh kami. Jadi kami mengambil pesanan yang cukup banyak.
Setelah itu kami pulang. Yang mengharuskan kami untuk menyusuri jalan mutsalats yang penuh angker di malam hari. Kami merasakan ada ketakutan dalam jiwa ini. Tak tahu kenapa, daerah yang gelap. Tak ada suara kebisingan apapun baik kendaraan ataupun anjing menggonggong.
Kami pun berjalan setapak demi setapak. Terdengarlah suara gerungan tuk-tuk (bajaj). Yang membuyarkan ketakutan dan lamunan kami. Ketika kami melihat, bahwa kendaraan tersebut ditaiki sekitar 6-7 orang. Ketakutan yang sudah buyar membuat ketakutan kami bertambah.
Tuk-tuk tesebut seperti berputar atau bermain di jalan. Dia sudah diujung jalan yang agak ramai. Kemudai balik lagi seperti menghampiri kami. Namun mereka melewati kami kemudian  melewatin kami lagi untuk kearah ujung jalan.
Saya merasa ada kecurigaan kepada orang-orang yang berada dalam tuktuk tersebut. Karena seperti ada yang mereka inginkan. Tak ada benda apapun untuk kami gunakan untuk melawan, namun saya tak berpikir panjang, dan hanya untuk menjaga. Saya mengeluarkan satu buah kunci. Kelihatan tidak berbahaya, tapi bisa mematikan. Biasa dapat pelajaran di tempat komunitas yang pernah saya ikuti. Sebuah kunci kurang menurut saya. Akhirnya yang dimana tadi kami berada di bahu kanan jalan. Kami ber pindah ke bahu kiri jalan yang sedikit agak ramai, didapati juga penjual buah dan cafe.
Alhamdulillah, kami pun selamat. Karena selamat dari mereka. Dan itu di bahu kanan jalan terdapat juga orang-orang yang kami curigakan tadi. Terasa kami melihat mereka, kesal tak karuan. Karena tidak mendapatkan mangsa kami.
Kami akhirnya menyebrang untuk menaiki tremco agar sampai ke PSG. Setelah kami menyebrang salah atu dari kami mangatakan naik taksi aja yu. Dan ada yang mengiyakan.
Kami menunggu taksi, dari kejauhan datang lah tremco. Tremco tersebut setelah dilihat banyak sekali wajah-wajah yang mengerikan. Sehingga ada keogahan dari kami untuk naik. Dikarenakan tak melihat ada kendaraan lain.
Kami terpaksa untuk menaiki tremco tersebut. Dengan rasa biasa aja. Teman ku 2 orang duduk dibangku  1 dan disamping mereka ada 1 orang lelaki sudah tua. Dan saya ada di bangku ke 2, dan disamping saya adalah 2 orang yang mengerikan. Begitu juga di bangku ke 3 dan 4.
Jalan lah tremco tersebut, mulailah 1 orang dari mereka beraksi yang ada disamping saya. Saya melihat dia seperti takut juga kepada saya, karena dia seperti bocah kecil sumuran anak smp. Dia hanya seperti memanggil saya. Untuk berbicara dengan samping nya yang diperkirakan umurnya 17 tahun. Memang lebih kecil dari saya. Tapi wajahnya menimbulkan yang menyeramkan.
Kemudian dia seperti ingin pinjam hp untuk menelepon. Dia terus meminta dan mengisyaratkan kelingking dan jempol melebar dan ditaroh di kupingnya. Jempol di telinga dan kelingking di mulut. Saya tak menghiraukan perkataanya. Dia pun berpindah tempat sehingga tepat berada disamping saya. Kemudian dia terus mencolek paha kiri saya untuk membuktikan apakah ada hp atau tidak di kantong saya. Pembuktian mereka berhasil karena ada hp di kantong kiri. Kemudian dia meminta untuk meminjam. Saya katakan dengan nada keras sehinga semua penumpang mendengarnya dengan “LAAAA” yang artinya “TIDAK”. Serasa lepas kepanikan dan ketakutan yang menguasai tubuh saya.
Orang-orang yang berwajah menyeramkan tadi tertawa atas perkataan saya tadi. Senang karena menurut mereka saya sudah takut. Setelah itu saya menaruh tangan saya di muka kantong. Agar tidak mudah untuk memasuki kantong saya.
Benar memang. Terasa ada satu tangan ingin meraih kantong saya. Namun rencana dia gagal karena dia merasa kalau saya tidak sadar terhadap kantong kanan. Karena ketika dalam situasi seperti itu saya harus sadar apa yang terjadi dalam tubuh saya. Dan ketika itu saya kencangkan pegangan kunci yang ada ditangan saya.
Yang berada didalam hati saya hanya ketakutan dan kapan sampai. Saya merasa itu jauh sekali. Padahal jarak ke mutsalats ke PSG itu tidak jauh. Terasa ingin turun saja. Mereka pun diam seribu bahasa. Karena celah yang inginkan sudah kutupi. Tak ada kantong yang banyak. Sebab saya hanya memakai celana training dan baju bola.
Saya melihat tulisan “saveto”. Alhamdulillah dikit lagi sampai. Hati pun lega. Maka dari itu saya segera mengatakan “ALA GAMBIH YASTOH” artinya “KIRI BANG”. Seketika tak ada lagi rasa kecemasan maupun ketakutan. Supir  tremco memberhentikan kendaraanya pas di depan yang kami inginkan.
Didalam hati tapi masih berpikir, kalau saya turun dia kan beraksi lagi dengan cepat. Dengan konsentrasi yang hilang karena ingin turun. Benara saja, ketika turun dia dengan sergap mengambil hp saya yang berada di dalam kantong. Kecurigaan mereka yang menganggap konsentrasi hilang telah sirna. Walaupun dia pegang hp saya. Tapi tetap tangan saya tak lepas dari muka kantong. Tarik-tarikan yang cuma-cuma menurut saya, karena bagaimana dia mengeluarkan hp dikantong sedangkan tangan saya menutupi kantong.
Kedua teman saya kaget atas kejadian yang terjadi ketika ingin turun. Namun supir tremco dengan menyuruh agar cepat turun. Dan dia melepaskan hp saya. Dan ketika kami berjalan beberapa langkah supir tremco tadi seperti menanyakan ada yang hilang atau tidak. Salah satu kami menjawab tidak.
Alahamdulillah. Dan ketika masuk PSG. Hadir traumatic dalam diri. Begitu juga saya menceritakan apa yang telah terjadi. 2 Teman saya tidak tahu apa yang terjadi ketika ada pemaksaan sebelum turun dari tremco.
Kejadian tersebut membuat saya trauma. Dan selama seminggu saya tidak berani keluar kecuali untuk pergi kuliah. Dan tidak mau naik tremco diatas jam 12 malam.
Kita harus berhati-hati kapan pun walaupun anda punya keahlian beladiri.